Sektor hotel dan pariwisata sebenarnya tengah menghadapi tantangan yang cukup berat tahun ini dikarenakan oleh kondisi kelebihan pasokan kamar (oversupply) yang terjadi di beberapa kota besar dan kekurangan tenaga kerja ahli di sektor pariwisata dan perhotelan.
JAKARTA, IndonesiaSatu.co --
Teknologi digital dan Internet berhasil menciptakan perubahan karena
tidak hanya dalam kehidupan sehari-hari, tetapi juga dalam dunia bisnis.
Sektor hotel dan pariwisata tak terkecuali, harus bisa merangkul
teknologi yang kini menjadi keharusan dan menjadi bagian dari kehidupan
sehari-hari para konsumen.
Menurut
data dari Persatuan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI), ada kurang
lebih 2.300 hotel berbintang di Indonesia (bintang satu sampai lima),
yang mempunyai hampir 290.000 kamar. Sementara itu, menurut angka dari
Badan Pusat Statistik (BPS) ada lebih dari 16.000 hotel non-bintang di
Indonesia dan memiliki total kamar sekitar 285.000 jumlah kamar.
Meskipun
okupansi hotel seluruh Indonesia sepanjang 2016 masih lebih baik
dibandingkan tahun sebelumnya, sektor hotel dan pariwisata sebenarnya
tengah menghadapi tantangan yang cukup berat tahun ini dikarenakan oleh
kondisi kelebihan pasokan kamar (oversupply) yang terjadi di beberapa
kota besar dan kekurangan tenaga kerja ahli di sektor pariwisata dan
perhotelan.
Disrupsi Digital
Ketua
Umum PHRI Hariyadi Sukamdani dalam acara jumpa pers di Hotel Grand
Sahid Jaya di Jakarta, Senin (13/11/2017), mengatakan disrupsi digital
(digital disruption) juga mempengaruhi industri perhotelan dan dampaknya
bisa positif dan negatif. Menurutnya, industri perhotelan tidak bisa
memungkiri kalau okupansi hotel sangat terbantu oleh jasa yang
disediakan dari online travel agency.
"Kalau
dilihat jumlah kamarnya, Indonesia ini yang terbesar di kawasan Asia
Tenggara. Kita tidak ada lawannya kita di Asia Tenggara. Angka tadi itu
belum termasuk dari jumlah kamar yang tersedia melalui konsep ekonomi
berbagi (sharing economy)," ujar Hariyadi, yang juga akan menjadi
pembicara di acara The Hotel Week Indonesia, yang merupakan ajang
konferensi dan eksibisi dengan fokus dibidang hotel dan pariwisata.
Hariyadi
mengatakan para pemilik dan operator hotel saat ini harus bisa
beradaptasi dengan tuntutan dari online travel agency, yang meminta
komisi lebih tinggi dari travel agency konvensional. "Komisinya mereka
itu cukup tinggi, antara 15-30 persen," ujarnya.
Namun,
bukan hanya itu Hariyadi, yang juga menjabat Ketua Umum Asosiasi
Pengusaha Indonesia (Apindo) menyoroti dengan serius masalah perpajakan
terkait Online Travel Agency asing, terutama terkait Pajak Penghasilan
Pasal 26 (Pph Pasal 26).
"Problemnya
OTA asing itu menyangkut pajak," ujarnya, seraya menambahkan saat ini
operator dan pemilik hotel dipaksa membayar PPH26 yang ditagih oleh
Direktorat Jenderal Pajak, karena para OTA asing tidak membayar
pajaknya.
"Ini
yang sedang di proses di dirjen pajak. Nah karena hotel tidak bisa
narik, jadi mereka [Dirjen Pajak] meminta hotel yang membayarkan. Ini
saya rasa semua hotel akan bereaksi keras karena ini kan jadi beban
biaya tinggi. OTA asing ini meminta komisi antara 15-30 persen. Jadi
dibayangkan saja?," ujar Hariyadi.
Hariyadi
mengatakan PHRI kini sedang meminta kepada Direktorat Jenderal Pajak
untuk meminta OTA asing membuat badan usaha tetap di Indonesia.
"Kami
sudah sampaikan soal pajak ini ke ibu Sri Mulyani menteri keuangan,
mudah-mudahan dalam waktu dekat ini bisa ada jawaban. Kami mohon Menteri
Keuangan bisa koordinasi dengan Menteri Komunikasi dan Informatika,
karena beliau mungkin punya perspektif lain," ujarnya.
"Pertanyaannya
adalah kalau mereka menolak gimana? Seperti kasus Google misalnya. Ini
yang sedang kita bicarakan dengan rekan-rekan perhotelan, kalau misalnya
kita blokir saja gimana OTA asing ini? Mereka menyatakan siap
mendukung," ujar pemilik jaringan Hotel Sahid di Indonesia.
Moratorium Izin?
Selain
tantangan tersebut, industri perhotelan kini tengah menghadapi
kelebihan pasokan kamar dan hal ini menyebabkan para pemain meminta
pemerintah setempat untuk menerapkan moratorium pemberian izin hotel
baru, terutama di kota-kota besar di Indonesia, yang sudah sangat banyak
jumlah hotelnya.
“Menurut
saya sih [moratorium], karena contohnya untuk daerah seperti Bali,
Jogjakarta, Bandung, itu sudah sangat padat. Saya belum paham kenapa
investornya masih tertarik membangun hotel [disitu] kalau nantinya tidak
untung. Kan kita bisnis maunya untung. Ngapain kalo tidak untung.
Karena pada akhirnya mereka akan kesulitan juga,” ungkap Hariyadi, yang
juga menjabat sebagai ketua umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo).
Sertifikasi Profesi
Alexander
Nayoan, ketua umum dari Jakarta Hotel Association yang menaungi lebih
dari 140 hotel bintang lima dan empat di Jakarta mengungkapkan bahwa
industri perhotelan mengalami kekurangan tenaga ahli dibidangnya dan
sertifikasi profesi yang belum memadai untuk posisi top management di
industri ini.
“Buat
sertifikasi General Manager misalnya itu apa aja yg dibutuhkan?
Idealnya seorang GM harus memiliki sertifikasi dari semua posisi yg ada
di bawahnya,” ujar Alex, yang juga merupakan salah satu petinggi di The
Dharmawangsa Jakarta.
“Misalnya
untuk posisi GM, dibutuhkan sekitar 54 sertifikasi profesi, sayangnya
tidak semuanya bisa didapatkan. Yang tersedia mungkin sekitar 15
sertifikasi. Inipun mengambil dari banyak tempat [sertifikasi profesi],”
ujarnya. Dia mengatakan Lembaga Sertifikasi Profesi Pariwisata tidak
bisa menyediakan standarisasi profesi yang jelas untuk pekerja di sektor
hospitaliti.
Alex
mengatakan industri perhotelan sangat membutuhkan uluran tangan
pemerintah untuk serius membenahi masalah sertifikasi, karena masa depan
dari industri ini sangat tergantung dari sumber daya manusianya.
Menurutnya, pelaku industri perhotelan telah mengeluhkan hal ini dari
sekitar 6-7 tahun yang lalu, akan tetapi hingga saat ini belum ada
solusi yang kongkrit dari regulator.
Untuk
menjawab berbagai tantangan tersebut, CNG Media & Events, yakni
perusahaan yang bergerak dibidang pameran dan konferensi berbasis
business-to-business (B2B), menggelar acara "The Hotel Week Indonesia",
yang merupakan ajang konferensi dan eksibisi dengan fokus dibidang
hotel dan pariwisata.
Mengambil
tema khusus disrupsi digital, perhelatan yang di selenggarakan pada
tanggal 23 - 25 November 2017 dan bertempat di Jakarta Convention Center
di Jakarta, ini didukung oleh dua asosiasi besar yakni Persatuan Hotel
dan Restoran Indonesia (PHRI) dan Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet
Indonesia (APJII).
Ratusan
eksibitor dari industri pendukung perhotelan seperti hotel investment,
teknologi perhotelan, hotel design, hotel solution, interior eco-tech
telah mendaftarkan diri untuk berpartisipasi pada perhelatan akbar ini.
sumber : http://indonesiasatu.co/detail/ini-tiga-tantangan-utama-industri-perhotelan-di-indonesia

3 Maret 2022 pukul 07.57
Slots by Pragmatic Play - Mapyro
Best Slots by Pragmatic 경기도 출장마사지 Play. 과천 출장안마 Find slot machine reviews, ratings, free play mode, 김해 출장마사지 winning 남원 출장마사지 screenshots, list of top 창원 출장샵 casinos with slots by